Senin, 22 November 2010

rasa keberadaan di mata



Suatu hari pernah salah satu sahabatku mengutarakan apa yang dia rasakan tentang perubahan sikap orang yang ia sayangi. Ia berkata “boy aq rasa akhir-akhir ini sikap si pujaan hati mulai berubah......”. lalu aku bertanya mengapa dia menarik kesimpulan seperti itu. Dan ia pun bercerita panjang lebar tentang apa yang dia rasakan yang intinya adalah si temanku ini merasa dianggap tidak ada oleh si pujaan hati.
Mengapa aku bisa berkata bahwa keberadaannya tak dianggap oleh si pujaan hati, aku ambil dari semua ceritanya. Pertama si pujaan hati ini tidak pernah memperhatikannya saat mereka berkumpul bersama teman-temannya. Dia hanya sibuk bercengkrama dengan teman yang lain, jangankan untuk ngobrol, untuk melihat si temanku saja dia emmoh. Kedua si pujaan hati ini tidak pernah mengungkapkan keinginannya pada  temanku, malah dia lebih senang mengungkapkan keinginannya pada teman dekat si temanku ini, kurasa ini yang juga bisa membuat temanku patah hati. Ketiga, ketika temanku ingin mengantar pulang si pujaan hati atau menjemputnya selalu saja si pujaan hati berkata tidak usah. Dan ini jarang terjadi apabila teman yang lain yang ingin mengantarnya pulang. Sungguh tragis......
Melihat peristiwa seperti di atas mungkin akan banyak respon yang akan diberikan setiap orang. Ada sebagian orang yang akan menganggapnya sebagai hal yang sepele, ada pula yang menganggapnya sebagai suatu yang sangat urgent dalam suatu hubungan. Tapi bagi diriku sendiri masalah seperti itu adalah masalah yang sepele. Tidak perlu untuk dipikirkan berlarut-larut. Dan seingatku waktu itu ku bilang sama temanku untuk meninggalkan saja si pujaan hatinya. Sebab ini sudah terlalu parah dalam pemikiranku. Bagaimana tidak parah, kita yang notabene adalah sorang kekasihnya tidak pernah mendapatkan tempat yang layak di hatinya, kita tidak lebih dari teman-teman yang lain, bahkan kalau dipikir-pikir sudah tidak ada penghargaan lagi atas diri kita. Sakit memang pabila suatu hubungan harus berakhir dengan cara yang tidak layak. Lalu mau gimana lagi...?
Kurangnya penghargaan akan seseorang biasanya akan berakibat orang-orang tersebut tidak akan/kurang respek terhadap kita, ini berdasarkan buku yang pernah aku baca. Pada umumnya setiap individu suka akan suatu penghargaan, tidak penting sekecil apa penghargaan yang ia terima. Setiap penghargaan yang diterima pasti membawa efek positif bagi setiap orang. Seseorang akan lebih memiliki arti apabila ia merasa dihargai oleh orang lain, dan karena penghargaan ini seseorang akan lebih bersemangat untuk berbuat lebih baik terhadap hidupnya sendiri dan hidup orang lain. Apalagi bila penghargaan itu datang dari orang yang dikasihi, betapa akan lebih membawa dampak  positif bagi kita.
Penghargaan dan rasa dihargai inilah yang tidak ku temui pada temanku. Dia hanya terkungkung pada janji yang ku anggap semu, komitmen yang bisa ku bilang bullsyit, dan tentunya rasa sayang yang hanya pemanis di awal saja. Dia tidak pernah mendapatkan ketentraman hati, jiwanya selalu akan diliputi oleh rasa cemburu dan jika ini dibiarkan berlarut-larut maka yang paling dirugikan adalah si temanku ini. Kulihat raut putus asa diwajahnya kala itu.
Mungkin nasehat yang aku berikan juga tidak akan membuat hatinya tentram, mungkin malah bertambah hancur. Bagaimana tidak hancur, seseorang yang disayang dan dicinta harus kita lepaskan begitu saja hanya karena hal-hal sepele seperti tersebut di atas tadi. Tapi kembali lagi kepada kata penghargaan, kurasa dari tindakan-tindakan kecil tadi sudah tidak ada lagi penghargaan bagi temanku ini, dan bila ini dibiarkan terus menerus maka pasti suatu yang lebih buruk akan terjadi di belakang hari, lebih baik sakit sekarang, toh sakitnya juga tidak akan lama.
Mungkin butuh waktu dan kekuatan lebih untuk temanku ini mengahiri hubungannya dengan si pujaan hati. Ini tentu saja normal, tapi saat itu sempat kubilang pada temanku ini untuk selalu bersabar, jalan masih panjang, dan kuingat saat itu usia kami baru 18 tahun lebih sedikit. Dan masih belum kering dari ingatanku kala itu dia sempat mencoba bunuh diri, sedih rasanya melihat sorang teman  sampai segitunya karena si tetek bengek “cinta”. Dan apa yang terjadi, si pujaan hati tidak juga peduli dengan apa yang menimpa nasib temanku ini, menengok di rumah sakit pun tidak pernah. Jangankan menengok, bertanya kabarpun tidak pernah.
Dari sinilah akhirnya dia mulai sadar bahwa dia tidak boleh tergantung pada si pujaan hati, ya memang kupikir buat apa memikirkan orang yang tidak pernah memikirkan kita. Hanya kerugian dan kemunduran yang akan kita terima.
Beberapa hari yang lalu temanku ini menelponku dan berkata “ boy tanggal 24 november nanti aku nikah.....!!”. senang rasanya melihat teman bahagia, apalagi kekasih barunya lebih pengertian dan lebih dapat menghargai dia lebih dari kekasihnya terdahulu.......

“SABARLAH MAKA KAU AKAN MENANG”
Selamat menempuh hidup yang kan lebih berarti temanku, sahabatku.....
Semoga dilimpahkan atas diri kalian berdua rasa kasih dan saling menghargai......

Kamis, 18 November 2010

Sekilas tentang Sayyid Quthb

Dialah Ulama dan Mujahid yang berani mendobrak hegemoni Sosialisme Mesir. Tumbuh dalam rimba kejahillayahan modern dan bergeming untuk turut andil melestarikannya. Walau kesenangan itu sudah berada di depan matanya. Walaupun tahta sudah siap menampuk tubuhnya. Kursi-kursi dunia itu disediakan untuk Sayyid Quthb asal ia bersedia mengakui bahwa kedaulatan Islam belumlah final. Bahwa sistem buatan manusia adalah jalan suci. Parlementari merupakan paras molek membangun kejayaan hidup. Namun apa kata Sayyid? Ia menolaknya. Baginya, rasa sosialisme, nasionalisme, bahkan demokrasi lebih pahit dari kehinaan dunia: sumir!
Sayyid Quthb menolak menafsirkan kata tauhid hanya sekedar pengakuan lisan bahwa Allah adalah Tuhan. Doktor Syariah dari Darul Ulum ini mempelajari Qur’an lebih mendalam, dan ia menyimpulkan bahwa makna tauhid lebih dari itu. Baginya tauhid sudah satu paket dengan keharusan menjalankan hukum-hukum Allah (baca: tauhid hakimiyyah) dan menolak bergabung dalam barisan oposisi tauhid. Memaknai tauhid dalam dua jurang antara al-haqq dan al-bathil yang coba disatukan adalah barisan absurditas yang sama sekali tidak akan mampu membawa Islam jaya. Meskipun itu demi “maslahat dakwah”. Sekalipun itu memakai “baju” Islam. Sayyid sudah tahu ukuran “baju” apa yang pas baginya, tidak lain adalah pengakuan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan kewajiban untuk mengindahkan pencampuran antara hukum Allah dengan hukum positif (baca: hukum buatan manusia). Untuk menyadarkan saudara-saudaranya, sampai-sampai ia harus menulis satu bab penuh dalam buku Dirosah Islamiyah-nya, “Ambil Islam seluruhnya atau tidak sama sekali!”
Ya Sayyid Quthb, dia bukanlah ikhwan pada umumnya. Ia bukan juga ikhwan yang mudah disetir. Membolak-balik tafsir Qur’an demi tujuan dunia. Duduk satu meja dengan musuh-musuh tuhannya, dan keluar dengan titah bahwa Islam boleh disisipi dengan isme lainnya. Itu sama saja memalukan Umat Nabi Muhammad saw. Baginya, pengalaman meneliti kebobrokan sistem pendidikan dan moral di Amerika sudah memberinya kesimpulan bahwa Islam adalah satu-satunya jalan. Bagi Quthb, produk Undang-undang buatan manusia tidak akan pernah bisa sama sekali mengantarkan manusia ke jalan Tauhidullah. Parlemen adalah ruangan tergelap di dunia, dimana ketika manusia memasukinya, ia akan tersesat dan sulit untuk mencari pintu keluar.
Mesir menjadi murka. Negara dengan cap Musolini rasa Arabia itu, meminta hidup Sayyid segera diakhiri. Apapun resikonya. Sayyid adalah bedebah bagi tirani sekularisme, namun angin semilir dalam bumbu jihadi yang menyejukkan dan mustahil berganti. “Selamat datang kematian di jalan Allah, selamat datang kehidupan abadi” ucap Sayyid dalam detik-detik menjelang syahidnya di tiang gantungan.
Perjalanan Cinta Sayyid Quthb: Jatuh Bangun Menjemput Kasih Sayang Allah
Namun dalam deretan kisah heroik itu Sayyid tumbuh dalam bingkai manusia natural. Pemuda yang memiliki niat untuk menikah memang banyak, tapi menikah dengan cara Islam dan memulai prosesnya lewat jalur tunggal berupa keikhlasan sebagai manifestasi cinta kepada Allah adalah minimum. Cinta menjadi dua sisi mata uang dalam kehidupannya: kesedihan dan ketakwaan. Tapi Sayyid Quthb tetap tegar, sekalipun dirinya mengalami dua kali jatuh cinta dan dua kali patah hati.
Seperti dikutip dari berbagai penulis yang mengambil kisah kehidupan Cinta Sayyid Quthb pada sebuah tesis mengenai dirinya, kisah cinta Quthb berjalan pertama kali saat seorang gadis datang mengetuk pintu hatinya. Dialah gadis pertama yang membangkitkan kerinduan Sayyid untuk menautkan cintanya. Embun cinta itu datang dari desa kelahiran. Namun tiga tahun sejak beliau harus menjauhkan raganya dari gadis pujaan ke Kairo untuk menuntut ilmu agama, gadis tersebut ternyata memilih menyerahkan cintanya kepada orang lain. Sayyid merasa terpukul mendengar berita ini. Tak kuasa menahan sedih, seguk tangis tak terbendung. Sangat dimaklumi bagaimana rasanya merelakan kepergian embun cinta pertama yang pernah mengisi relung jiwanya, yang pernah melambungkan asa dan melejitkan potensi kebaikannya. Cinta pertama memang indah, namun sakitnya menusuk ulu hati hingga menganga.
Embun cinta kedua lahir, menyejukkan dan membangkitkan kembali kerinduaan jiwa Sayyid untuk menautkan cintanya karena kecintaan kepada Allah. Gadis kedua ini berasal dari Kairo. Mengenai gadis ini sang Sayyid pernah menggambarkan bahwa paras gadis ini tidaklah buruk namun gagal untuk dibilang cantik. Nampaknya ada pesona lain yang memikat Sayyid sehingga merindukannya. Mungkin tatapan menyejukkan yang dibawa embun cinta ini. Sayangnya, lagi-lagi takdir tidak bermurah hati dengan cinta sang Sayyid. Di hari pertunangannya, Sayyid seakan disambar petir, pasalnya gadis tersebut sambil menangis menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang hadir dihatinya. Perkataan gadis itu seakan meruntuhkan harapan sang Sayyid untuk mendapatkan gadis yang perawan fisiknya, perawan juga hatinya.
Sayyid akhirnya memutuskan hubungan dengan gadis Kairo tersebut, pergi membawa raganya jauh dari embun cintanya. Raga Sayyid boleh saja menjauh, namun jiwanya ternyata tak mampu melepaskan pesona sang embun cinta. Selanjutnya apa yang terjadi? Sayyid tenggelam dalam penderitaan jiwa yang selalu dibawa atas nama cinta. Kesedihan bercampur kerinduan ternyata lebih menyiksa Sayyid dibanding goresan pedang yang menyayat tubuhnya. Akhirnya Sayyid mengorbankan idealismenya kemudian pergi menjemput dan rujuk kembali dengan gadis pembawa embun cinta tersebut. Namun sayang, kali ini gadis itulah yang menolak cinta sang Sayyid.
Perih bukan main gejolak rasa yang dialami Sayyid. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan yang dirasakan Sayyid tersebut. Bahkan tercipta roman-roman yang merupakan bayang-bayang romansa cinta tersebut. Inilah peristiwa kedua yang membuat luka batin sang Sayyid. Saat harapannya menggantungkan cinta terputus oleh kekuasaan takdir. Menorehkan luka yang menganga menabur kepedihan.
Namun bukan Sayyid Quthb namanya bila beliau harus hancur gara-gara cintanya yang terhempas takdir. Dengan kebesaran hati dan sikap husnudzon terhadap takdir Allah, tanpa menafikkan kesedihan yang melanda hatinya, beliau berujar kepada sang Pemilik takdir “Apakah dunia tidak menyediakan gadis impianku? Ataukah pernikahan tidak sesuai dengan kondisiku?”. Saat cinta yang dirindu tak kunjung menerimanya, maka beliau menggantungkan seluruh cintanya pada Dzat yang selalu mencintainya, yang cintanya tidak akan pernah terputus, yang cintanya kekal abadi. Cintanya Allah. Ya, Allah. KepadaNyalah beliau menumpah ruahkan seluruh cinta dan mimpi-mimpinya yang tertolak takdir, sambil berlari menjemput takdirnya yang lain.
Yang luar biasa adalah, Asy-Syahid sadar dirinya berada dalam realitas. Bukan dalam dunia ideal yang melulu posesif, indah dan tanpa aral. Kalau cinta tak mau menerimanya, biarlah ia mencari energi lain yang lebih hebat dari cinta. Ternyata energi tidak jauh-jauh dari kehidupannya, Allah lah Energi yang kemudian membawanya ke penjara selama 15 tahun. Dan di penjara itulah beliau dengan gemilang berhasil menulis tafsir Fi Dzhilalil Qur’an dengan cinta. Sebelum akhirnya harus meregang nyawa di tiang gantungan. Sendiri! Dengan cinta yang sudah tertumpah ruah semua untuk Rabbnya, hanya kepada Rabbnya.
Bahkan dalam novel Duri Dalam Jiwa yang ditulis Sayyid pada tahun 1947 sebelum Sayyid Quthb bergabung dalam gerakan Ikhwanul Muslimin. Sayyid sukses menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah kata dan menyajikan konflik yang pekat dengan empati, melibatkan ilmu jiwa dan penghayatan mendalam. sulit untuk berhenti sejenak membacanya karena takut kehilangan feel yang telah didapat. Dalam novel ini kita diajak untuk merasai lika-liku perasaan manusia dalam mengolah suatu rasa yang disebut cinta, cinta antar manusia. Kita diajak menyelami dalamnya cinta dan kebodohan sekaligus tarikan magnetisnya. Kita diajar untuk menjadi pecinta sejati yang tidak takut untuk berproses mengubah rasa tidak suka menjadi rasa suka, benci menjadi cinta.
"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2] : 216)
Begitu dalam dan lembutnya Sayyid Quthb dalam bermain kata, pembaca mungkin memerlukan pikiran jernih untuk menangkap pangkal konflik. Mengutip dari pengantar dalam buku ini, di dalam novel ini, Sayyid Quthb secara halus dan lembut mengisyaratkan betapa pentingnya arti keperawanan seorang gadis, karena begitu hal ini diragukan maka persoalan pelik pun akan muncul. Ada perasaan terhina dan luka hati bagai tertusuk duri dan dapat menjadi beban sepanjang hidup.
Membaca buku ini menjadi suatu kenikmatan tersendiri. Begitu banyak hikmah implisit dalam tiap lika-liku perasaan para tokoh yang dihadirkan: cinta, kejujuran, ketulusan, pengorbanan, kepasrahan, dan keberanian.
Problematika Cinta: Sebuah Refleksi
Kita mungkin pernah sama-sama merasakan layaknya seperti Sayyid Quthb bahwa ada suatu fase dalam hidup kita saat dimana pikiran, hati, kaki, tangan, dan jiwa kita disinggahi oleh cinta. Bahkan kita juga sempat mencicipi bagaimana segala kebahagiaan hidup ditentukan dari kesuksesan cinta dalam balutan standar manusia. Pada konten ini kemudian cinta berubah menjadi sayembara yang kerap melontarkan kata-kata penjara jiwa seperti “Hidup kita hancur tanpa keberhasilan menaklukan cinta”. Sedangkan, remaja kerap berkata, “Jika mempunyai kekasih, belajar rasanya akan lebih termotivasi”. Malah bisa jadi ada sumpah serapah yang terlontar kepada laki-laki atau perempuan yang telah mengkhianati cinta kita. Ikhwatifillah, tanpa disadari ternyata kita sudah meletakkan sesuatu yang pasti kepada manusia yang lemah, individu yang justru tak tahu masa depan itu sendiri!
Ketika kita mulai menjajakan cinta dan menggantungkan harapan cinta itu kepada manusia, yakinlah ikhwah, yang ada hanyalah kekecewaan, karena kemampuan manusia sangatlah terbatas. Ia tidak bisa memastikan, lebih-lebih menjadi penentu takdir kita. Padahal manusia tetaplah manusia dengan segala kelemahannya. Adagium, sepandai-padaninya tupai melompat akhirnya jatuh juga bukan sekedar pepatah dalam rangka mengingatkan ikhtiar manusia, karena pada kenyataannya, Allah telah menggariskan kemampuan manusia jauh sebelum adagium itu hadir. “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa [4] : 28).
“Allah telah menciptakan kalian lemah, kemudian menjadi kuat, lalu setelah kuat kalian menjadi lemah dan tua.” (QS. Rum [30] : 54).
Bahkan pada momentum ayat yang lainnya, Allah dengan terang-terangan mengidentifikasikan manusia dalam keadaan yang begitu rentan terhadap hati. Dalam surah ke 70 ayat 19, Allah berfirman: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir”,
Tidak berakhir di situ, kemudian Allahpun menjelaskan lagi perihal makhluk hidup yang akan membuat kita terangsang untuk lekas mengintropeksi diri, muhasabah, dan kembali kepada khittah kehidupan cinta, yakni firman yang berbunyi selang dua ayat berikutnya, “dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”.
Ada banyak varian dari timbulnya problematika cinta, salah satunya bagaimana kita salah mengelola qalbu dalam cinta. Qolbu adalah wilayah yang urgen dalam kehidupan, hingga Rasulullah saw pernah mengeluarkan hadisnya yang menyentuh,
“Ketahuilah sesungguh dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.”
Banyaknya manusia yang terpuruk dalam cinta dan dikuasai hawa nafsu tak lepas karena kita telah menggantungkah harapan kepada selain Allah. Merasa diri sombong dengan meletakkan ayat-ayat ilahi sebagai prioritas kedua dalam mengatasi permasalahan kita.
Salah Satu Kunci Kenyamanan Hidup Dimulai Dari Bagaimana Kita Mampu Membangun Suasana Hati
Saudaraku, belajar dari kisah cinta Sayyid Quthb, percayalah bahwa hati yang cemas, kikir, gelisah, kotor, dan merasa lelah menjalani hidup, dikarenakan kita sudah meletakkan standar-standar duniawi sebagai syarat kebahagiaan hakiki. Kita rela menyiksa hidup dengan syarat-syarat wahn yang sebenarnya tak bisa kita lakukan. Kalau kita mau jujur, kesemua itu malah jauh dari sumber kebahagiaan yang sebenarnya, yakni ketenangan hati untuk bagaimana kita selalu berusaha dekat dengan Allah.
Saudaraku, Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu pernah berkata bahwa “Tidak sempurna keselamatan qalbu seorang hamba melainkan setelah selamat dari lima perkara: syirik yang menentang tauhid bid’ah yang menyelisihi As-Sunnah, syahwat yang menyelisihi perintah kelalaian yang menyelisihi dzikir dan hawa nafsu yang menyelisihi ikhlas.”Hamba yang memiliki qalbun salim akan selalu mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan tempat di surga.
Saudaraku, salah satu kunci kenyamanan hidup dimulai dari bagaimana kita mampu membangun suasana hati. Jika hati kita ikhlash dan bersih dengan penuh ketawadhuan, sesuatu yang kita pandang hina jadi sedemikian mulia, yang tadinya kita pandang kurang ternyata teramat cukup, sesuatu yang kita lihat kecil dan tak berdaya berubah jadi sangat besar dan penuh makna, dan apa yang kita lihat sedikit, ternyata terlampau banyak. Dan itu di mulai dari bagaimana kita hanya bergantung kepada Allah dan menjadi Allah sebagai satu-satunya zat yang mampu membuat kita bangkit setelah terjatuh.
Sekarang pertanyaannya apakah kita mau melepaskan segala ukuran ideal kehidupan kita, kesombongan kita atas pilihan yang jauh dari genggaman kesanggupan kita. Kini, apakah kita juga rela berhenti sejenak melepas atribut keduniawian kita untuk menghadap one by one dengan Allah dengan berkata jujur di depan SinggasanaNya. Jika kita berani, rasakanlah ada aliran kesejukan dan ketenangan yang sebelumnya tidak kita rasakan. Ia menentramkan. Ia pun mampu merubah paradigma kita tentang cinta, hidup, dunia, ujian, dan sebagainya sama sepertia yang Sayyid Quthb rasakan. Jika kita masih bergeming, yakinlah sebenarnya itu kembali kepada diri kita pribadi.
“Maka apabila hari kiamat telah datang. Pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada tiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguh nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabb dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu maka sesungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Naziat [79] : 34-42)http://www.eramuslim.com/oase-iman/antara-allah-wanita-dan-bagaimana-kita-memahami-realitas.htm

Sabtu, 13 November 2010

Pondok Pesantren Siqqotul Mutawakkilin

Berdiri pada tahun 1985, pondok pesantren ini merupakan pondok pesantren pertama yang dibangun di wilayah kecamatan Arjasa Situbondo tepatnya di desa Kedungdowo. Berdirinya pesantren ini tidak terlepas dari campur tangan para sesepuh desa seperti alm. Haji Hasyim, dan alm. Kiai Sudjono. sebelum menjadi sebuah pesantren disini sudah dibangun sebuah langgar (surau) yang biasa digunakan untuk memberi pelajaran baca tulis al'quran bagi anak di sekitar desa kedungdowo dengan pengajarnya yakni  kiai Sudjono sendiri. untuk tahun pendirian langgar oleh kiai sudjono belum diketahui secara pasti, tapi menurut para sesepuh desa langgar tersebut sudah didirikan sejak perang kemerdekaan.
pondok pesantren Siqqotul Mutawakkilin baru didirikan pada tahun 1985 berdasarkan prakarsa dari Alm. haji Hasyim. saat itu Kiai sudjono menjodohkan putrinya dengan seorang pemuda santri lulusan pondok pesantren Sidogiri Pasuruan. melihat kadar keilmuwan dari menantu kiai sudjono utamanya dalam bidang keagamaan, maka Alm. haji hasyim berniat untuk mendirikan sebuah pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan, tidak hanya sekedar baca tulis al-quran. beliau benar-benar mewujudkan keinginannya untuk mendirikan sebuah pondok pesantren. tidak tanggung-tanggung, beliau mewaqafkan sebagian tanahnya untuk tempat didirikannya pesantren yang ia impikan.
karena minimnya pengetahuan akan pengelolaan sebuah pesantren maka Alm. haji hasyim menyerahkan kepemimpinan pondok pesantren yang ia bangun kepada menantu kiai Sudjono yakni ustadz Mahfudz syarif.
dibawah kepemimpinan ustadz muda ini pondok pesantren siqqotul mutawakkilin berkembang hingga tingkat nasional. ini terlihat dari seringnya ustadz muda ini mendapat undangan dari pusat untuk menghadiri acara-acara resmi kenegaraan. mulai dari masa presiden suharto sampai masa pemerintahan ibu megawati.
karena kesederhanaannya tidak banyak khalayak umum yang mengetahui sosok ustadz muda ini. satu pesan yang pernah penulis terima ialah "jika engkau ingin dicintai orang lain dan masyarakat maka jagalah perkataanmu dan biasakan tersenyum walau senyum itu untuk orang yang sangat membencimu
".
banyak lulusan dari pondok pesantren ini yang pada akhirnya juga membuka pondok pesantren di wilayah masing-masing. ini membuktikan bahwa pondok pesantren ini tidak hanya membimbing untuk perorangan saja, melainkan juga melatih para santrinya untuk menyebarkan ilmu yang telah didapatkannya kepada masyarakat luas.....

Jumat, 12 November 2010

burry coffeshop

burry coffeshop......sebuah kafe yang terletak di kawasan perum mastrip kecamatan sumbersari kabupaten jember tepatnya di wilayah blog CC dan F. kafe ini berdiri sejak tahun 2000  hingga saat ini masih tetap eksis memberikan pelayanan kepada para kopitarian di lingkungan perum mastrip. menu yang bisa di deliver para kopitarian antara lain : hot black coffe, hot milkcoffe, warm ginger, dan red tea. selain itu kafe ini juga menyediakan beberapa meal seperti : themphe crispy, buakkwan, bananas deepfrying, mie godhog, dan hot cassava special.
burry coffe shop buka mulai jam 16.00 sampai dengan waktu yang tidak ditentukan, sebab kafe ini merupakan salah satu kafe yang juga menjadi teminal bagi para walkingshoper, seperti abank bakso, abank mie& nasi guyeng, abank tahu tek dan abank2 yang lain. walaupun banyak terdapat walking shoper yang memarkir dagangannya disini tetapi tidak terlihat adanya persaingan diantara mereka. semuanya terasa memiliki jiwa kebersamaan di bawah payung burry coffeshop.
ada satu yang menarik dari kafe ini, yakni pabila malam hari mulai tiba maka salah satu dari pengunjung biasanya ikut membantu menyalakan lampu, akan tetapi tidak dengan cara yang biasa. lampu tidak akan mennyala jika hanya dinyalakan dengan cara biasa, melainkan harus mengangkat salah satu kakinya ke atas meja dan memutar lampu yang terdapat di atas meja tersebut. hal ini hampir terjadi setiap hari dan biasanya juga yang menyalakan ialah anak2 kontraan blog CC1 utamanya gundoel alias pi'ul alias kabol, alias saiful khabib.
entah sampai kapan kafe ini akan tetap berdiri, yang jelas mulai saat ini kami warga kontraan TPHPI cc1 akan sangat jarang menikmati hidangan nikmat burry coffeshop.......

Kamis, 11 November 2010

menjadi mahluq yang sempurna


Dari khalid bin Walid radiallahhu’anhu(RA) ia berkata,” telah datang seorang arab desa kepada baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (SAW). ia menyampaikan kepada baginda SAW ia menyampaikan tujuannya,” wahai Rasulullah! Sesunggujnya kedatanganku ini adalah untuk bertanya kepada  engkau mengenai apa yang akan menyempurnakan diriku di dunia dan akhirat.
Maka baginda SAW telah berkata kepadanya,” tanyalah apa yang engkau kehendakki:
Oran arab badui ini berkata,” aku mau menjadi orang alim. Baginda SAW menjawab,” takutlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) maka engkau akan menjadi orang yang alim.”
Dia berkata kembali.”aku mau menjadi orang paling kaya. Lalu baginda SAW menjawab.” Jadilah orang yang yakin pada diri , maka engkau  akan menjadi orang paling kaya.”
Selnjutmmya dia berkata.” Aku mau menjadi orang yang adil. Baginda SAW menjawab .”kasihanilah manusia yang lain, sebagaimana engkau kasih kepada diri sendiri, maka jadilah engkau seadil-adil manusia.”
Dia berkata,”aku mau menjadi orang yang paling  baik. Baginda SAW menjawab,” jadilah orang yang berguna bagi  masyarakat, maka engkau akan menjadi sebaik-baik manusia.”
Dia berkata aku mau menjadi orang  yang istimewa di sisi Allah. Baginda SAW menjawab,” banyakkan dzikrullah, niscaya engkau akan jadi orang istimewa di sisi allah.”
Dia berkata,” aku mau disempurnakan imanku. Baginda SAW menjawab,”pereloklah akhlakmu niscaya imanmu akan sempurna.”
Dia berkata,” aku mau termasuk dalam golongan orang yang muhsinin (baik). Baginda SAW menjawab .”Beribadatlah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak merasa begitu, sekurangnya engkau yakin Dia tetap melihat engkau. Maka dengan cara ini , engkau akan termasuk golongan muhsinin.”
Dia berkata,” Aku mau masuk golongan mereka yang taat. Baginda SAW menjawab,”tunaikan segala kewajiban yang difardhukan, maka engkau akan termasuk dalam golongan mereka yang taat.”
Dia berkata,” aklu mau berjumpa Allah dalm keadaan bersih daripada dosa. Baginda menjawab.” Bersihkan dirimu daripada najis dosa niscaya engkau akan menemui  Allah dalam keadaan suci daripada dosa.”




dan percakapan lain yang belum bisa diketik....